Pastikan Proses Belajar Mengajar Tetap Berjalan di Tengah Pandemi Covid-19, Labesse Kunjungi Beberapa Sekolah

  • Whatsapp

Malili_ Guna memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan di tengah masih mewabahnya Covi-19 di Kabupaten Luwu Timur, Kepala Dinas Pendidikan Lutim Labesse lakukan kunjungan dibeberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD).

Dalam kunjungan tersebut, menurut Labesse lebih pada koordinasi adanya Kesepakatan bersama 4 (empat) Kementerian yakni Kementeri Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri.

“Empat kementerian teraebut, secara bersama telah mengeluarkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahin Ajaran dan Tahun Akademi Baru di Masa Pandemi Covid-19”, tutur Labesse saat ditemui di ruang kerjanya. Rabu 22 Juli 2020.

Ada beberapa Prinsip Kebijakan Pendidikan di Masa Pandemi COVID-19, lanjutnya, yakni Kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat merupakan prioritas
utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran.

“Untuk daerah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan pembelajaran tatap
muka di satuan pendidikan. Satuan pendidikan pada zona-zona tersebut tetap melanjutkan Belajar dari
Rumah (BDR)”, kata Labesse.

Kemudian selanjutnya, urutan tahap dimulainya pembelajaran tatap muka dilaksanakan berdasarkan pertimbangan kemampuan peserta didik
menerapkan protokol kesehatan:
Tahap I : SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, Paket B. Tahap II dilaksanakan dua bulan setelah tahap I: SD, MI, Paket A dan SLB. Tahap III dilaksanakan dua bulan setelah tahap II: PAUD formal (TK, RA, TKLB) dan non formal. Begitu ada penambahan kasus/ level risiko daerah naik, satuan pendidikan wajib ditutup kembali. Urainya lebih mendetail.

Selain itu ada juga ketentuan pembelajaran tatap muka di sekolah dan madrasah berasrama di zona hijau, Sekolah dan madrasah berasrama pada zona hijau dilarang membuka asrama dan melakukan pembelajaran tatap muka selama masa transisi (dua bulan pertama).

“Pembukaan asrama dan pembelajaran tatap muka dilakukan secara bertahap pada masa, kebiasaan baru dengan ketentuan sebagai berikut yakni Kapasitas Asrama Masa Transisi (Dua Bulan Pertama)”, tambahnya.

Lebih jauh lagi lanjutnya, Kepala satuan pendidikan wajib melakukan pengisian daftar periksa kesiapan, yaitu nomor Daftar Periksa Kesiapan Satuan Pendidikan sesuai protokol kesehatan Kemenkes yang terdiri dari Ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan (toilet bersih, sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau cairan pembersih tangan atau hand sanitizer dan
disinfektan.

“Kemudian juga, Sekolah harus mampu mengakses fasilitas layanan kesehatan (puskesmas, klinik, rumah sakit, dan lainnya). Dan Kesiapan menerapkan area wajib masker kain atau masker tembus pandang bagi yang memiliki peserta didik disabilitas rungu. Memiliki thermogun (pengukur suhu tubuh tembak). Termasuk juga Pemetaan warga satuan pendidikan yang tidak boleh melakukan kegiatan di satuan pendidikan”, tandas Labesse.

Mengakhiri uraiannya, Labesse mengatakan harus dibuat kesepakatan bersama komite satuan pendidikan terkait kesiapan melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Proses pembuatan kesepakatan tetap perlu menerapkan protokol kesehatan.
Satuan pendidikan mulai melakukan persiapan walaupun daerahnya belum berada pada zona hijau berkoordinasi dengan Dinas.

Mengenai dana BOS di masa kedaruratan COVID-19, juga dapat digunakan untuk
mendukung kesiapan satuan pendidikan
Penekanan alokasi terkait COVID-19.

Diterangkan BOS dapat digunakan untuk pembelian pulsa, paket data, atau
layanan pendidikan daring berbayar bagi pendidik dan peserta didik dalam rangka pelaksanaan pembelajaran dari rumah. Pungkas Labesse.
Liputan : amal
Editor. : redaksi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *