oleh

Ini Penyebab, Tingginya Curah Hujan Di-Luwu Timur


MALILI__Tingginya curah hujan di Kabupaten Luwu Timur yang menyebabkan bencana banjir maupun tanah longsor di Bumi Batara Guru beberapa pekan lalu disebabkan adanya gangguan atmosfir dalam bentuk madden Julian oscillation (MJO). Hal tersebut dibenarkan oleh kepala Badan Metereologo Klimatologo dan Geofisika (BMKG) Masamba Kabupaten Luwu Timur pada wartawan media ini saat dikonfirmasi pagi tadi Jum’at 21 juni 2019, terkait tingginya curah hujan selama ini di Luwu Timur.

Kepala BMKG Masamba Winarno mengatakan, gangguan atmosfir dalam bentuk MJO juga menyebabkan hujan ekstrem yang tentunya menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor,seperti yang terjadi musibah banjir di kabupaten konawe Sulawesi tenggara dan kabupaten morowali Sulawesi tengah,begitupun bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi beberapa pekan lalu di Luwu Timur.

“kami juga menghimbau agar masyarakat tetap waspada dalam menghadapi periode musim hujan yang disebabkan oleh madden Julian oscillation (MJO) ini” imbuh Winanro.  

Fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) adalah fluktuasi infra-musiman dari tekanan atmosfir diatas Samudera Hindia dan Samudera Paisifik bagian barat kearah timur pada daerah tropis.

“Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer  , terpantau masih terdapat aliran massa udara basah dari Samudera Hindia yang masuk ke wilayah Jawa, kalimantan, Bali, NTB hingga NTT. Bersamaan dengan itu, masih kuatnya Monsun Dingin Asia beserta hangatnya Suhu Muka Laut di wilayah perairan Indonesia menyebabkan tingkat penguapan dan pertumbuhan awan cukup tinggi,karena adanya MJO, konsentrasi pertumbuhan awan kuat sehingga hujan-hujan yang terjadi berintensitas tinggi dan berlangsung lama serta berpotensi menimbulkan banjir serta tanah longsor.Hujan dengan intensitas tinggi saat ini yang terjadi di Luwu Raya termasuk Luwu Timur  tentunya dapat menimbulkan kerusakan infrastruktur,lahan perkebunan dan merendam pemukiman  warga”ujar Winarno.

Seperti diketahui, akibat curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan sejumlah kecamatan di Luwu Timur dilanda banjir. Daerah-daerah yang banjir tersebar di desa Mahalona kecamatan Towuti, desa Tawakau kecamatan Angkona dan Bone Puteh kecamatan Burau.  

Winarno menuturkan, untuk wilayah Luwu Timur dan Luwu Utara memang agak unik karena tidak mengenal musim baik musim penghujan ataupun kemarau. ” Keunikan ini diklasifikasikan sebagai di luar zona musim artinya saat musim kemarau, maka Luwu Timur dan Luwu Utara tetap berpotensi terjadinya hujan. Sementara jika musim penghujan, maka daerah tersebut berpotensi dilanda hujan lebat,” katanya.

Menurut Winarno, dari aspek dinamika atmosfer saat ini di atas wilayah Indonesia yang sedang ada gelombang atmosfer MJO, gelombang atmosfer dari Samudera Hindia yang membawa banyak uap air, sehingga pertumbuhan awan hujan di Indonesia semakin intens,dan dipastikan akan kembali normal pada akhir Juli 2019.
Liputan :Nat
Editor:redaktur lutim-news.com 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed